Kamis, 21 November 2019

Ampas Permen Karet. Oleh: Lisars


            
              Badanku kaku seperti serak ijuk, tangan mulai bersuhu dingin dengan gemetar yang semakin jadi, suasana hatiku sedang bergemuruh mendengar kata yang terlontar darinya padahal hanya sepatah kata yang biasa. Mungkin karna diucapkan oleh Arman anak terpintar di sekolahku. Ia bahkan hanya mengajakku untuk menemani jam istirahatnya di kantin. Aku tak tau lagi harus menolak dengan cara apa dan dengan terpaksa aku menyetujui keinginannya.

        Pandangannya tertuju padaku dengan tatapan yang begitu misterius. Dengan alasan apa ia memperlakukanku seperti ini?  Penghuni kantin mencuri mata untuk melihat ke arahku.

“Kamu cantik” Arman Mengaitkan dagunya dan menyipitkan sebelah matanya.
Aku tertunduk malu,tak berani menjawab laki-laki yang disukai banyak orang ini, memejamkan mata sesaat guna menahan rasa canggung akan keadaan dan menahan degub jantung yang semakin menebar cepat. 

“perasaan macam apa ini? Aku tidak mungkin suka padanya. Hanya karna dia memujiku” Gumamku dalam hati.

“ Sandra? Kamu kenapa?” mata Arman seketika melihat ke kanan kiri,dilihatnya banyak penghuni kantin yang masih memfokuskan pandangan kepadaku.

“udah,gak perlu dipikirkan” Ucap Arman santai.

"iyyya “ tiba-tiba saja aku mengeluarkan kata dengan nada yang gugup yang membuatku semakin malu.

“Kamu jadi tambah cantik kalo lagi panik gini” Arman tertawa kecil melihatku yang tersipu malu.
“ sadar atau tidak orang yang di depanku ini tipe aku banget, udah cantik, manis, kalem,eh punya lesung pipi juga. Komplit deh “ Ucap Arman memainkan alisnya naik turun.

       Aku hanya terdiam, mencoba menyadarkan otak dan pikiran agar tidak terbawa suasana hasutan kata-kata manisnya, aku tidak mau terseret Perasaan semu saat mataku tiba-tiba saja bertemu dengan mata Arman. Perlahan tanganku dingin dan  semakin dingin.

“Sandra,kok diem aja sih? Jawab dong” Arman mengkerutkan bibirnya dan memasang muka kesal sesekali melirik ke arahku.

"iyyya.. kenapa?”  Grogiku sepertinya muncul lagi sudah berulang kali aku mencoba mengendalikannya tapi tetap saja tidak bisa.

“santai aja dong,jangan grogi” Arman sepertinya mengetahui keadaanku saat ini.

“nggak kok” jawabku cepat.
“Yaudah ya, bentar lagi mau masuk. Aku ke kelas dulu” aku berdiri mencoba untuk pergi Namun  secepat Arman memegang tanganku.

“barengan aja, kita kan satu kelas..” Ucap Arman tersenyum.

“nggak deh, aku sendiri aja. Duluan ya” aku melepaskan pegangan Arman dan berlari kecil menuju kelas

      Tiba di kelas banyak anak-anak yang bersorak ria ke arahku, aku tidak mengerti maksud mereka. Kedatanganku seperti bencana di kelasku sendiri. Mereka melihatku seakan aku adalah musuhnya dengan tatapan sinis dari ketua geng  terkenal yang selalu ingin dinomer satukan, Ia berbisik ke arah teman di sampingnya  terdengar jelas ditelingaku yang berbicara tentang kejadian di Kantin hari ini.

" WOY ! “ Bentaknya memukul meja.

“Kamu ngapain deket-deket Arman?” Tanya seseorang  di sebelahnya.

“Iya,Ada hubungan apa kalian?!” Tanya yang lain ikut mempertegas.

"kenapa makan berdua di Kantin?” lanjut Ketua geng berbaju ketat namun rapi dengan Gincu tipis dibibirnya.

"Kamu godain Arman?” Ucap seseorang di ujung kelas.
    
            Sungguh bingung, tak tau pertanyaan mana yang harus aku jawab diantara pertanyaan , Mereka bertanya dengan dibumbuhi bentakan kasar. Apa aku salah menuruti kemauan Arman? Semua orang saling berhadapan satu sama lain karena aku tak menjawab dan berdiam diri saja tanpa sepatah kata apapun.

“SANDRA!” teriak seorang perempuan tomboy yang selalu memakai kalung bermotifkan tengkorak. Sebut saja Ike, Mantan Arman yang telah putus 8 bulan lalu.

“Jawab! Gak denger apa gimana sih?” Lanjutnya lagi dengan melototkan mata buatnya.
  
           Tiba-tiba saja semua orang berlarian ke tempat duduknya, aku rasa Ada pak Budi di belakangku, jam selanjutnya adalah pelajaran Fisika yang di ajarkan oleh Pak Budi.

"Sandra,silahkan duduk” Ucap Pak Budi di belakangnya ada Arman yang mengangguk ke arahku.
Aku membalasnya setuju dan berjalan menuju kursi dudukku. Hari ini benar-benar hari yang menegangkan, jika aku tidak menuruti kemauan Arman pasti  tidak akan berurusan dengan Ike. Ia duduk bersebelahan denganku di Skat oleh jalan, Tatapan sinisnya masih terpancar di wajahnya.

"Awas,ya! “ ucapnya mengancamku.

           Akhirnya Pelajaran hari ini telah selesai, aku rindu masakan Ibu yang selalu menjadi angan saat perutku keroncongan terutama di jam saat ini. Aku berjalan pulang seorang diri karna jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Terlihat dari kejauhan ada segerombolan sedang berkumpul sepertinya seusia denganku, dan benar saja itu adalah komplotan Geng Ike mungkin dia ingin membalaskan kekesalannya kepadaku. 

Kring...kring...

        
      Ponselku berbunyi terlihat itu ada nama Arman menelfon, segera aku angkat.

"kamu ada di mana?” tanya nya dengan nada cemas dan khawatir.

“jangan lewat gang Asri, Ada Ike. Kamu nanti di keroyok. Kamu puter balik aja ya, kamu ada di mana?” Tanya Arman lagi.

"aku di sebelah Gang Asri, udah ngeliat Ike” jawabku.

"oke aku kesana”  Ucapnya di balik ponsel.
Tak lama kemudian datanglah Arman dengan sepeda motor Ninjanya, Ia memaksaku untuk ikut bersamanya. Tidak ada pilihan lain aku tidak ingin di keroyok oleh Geng Ike, lebih baik aku ikut Arman saja.

         Di perjalanan Arman bertanya seputar tugas minggu ini dan tentunya aku menjawab tanpa ada rasa curiga. Tidak ada rasa curiga sedikitpun aku akan di bawa kemana, yang pasti ini sudah jauh dari rumahku. Merasa ada yang aneh karna sepeda motor Arman tidak kunjung berhenti, Aku mulai bertanya.

“ ini mau kemana?” tanyaku polos.

“udah ikut aja” jawabnya Singkat.

           Setelah 10 menit perjalanan Sepeda motor Arman terhenti, dan ini bukan tempat yang biasa seperti sudah di rancang sebelumnya. Di bukit tinggi dengan hiasan bermotifkan “Love” . Di hari itu juga Arman mengungkapkan perasaannya padaku, tanganku langsung bersuhu dingin mengeluarkan keringat bahkan sampai seperti orang yang sudah membersihkan Tangan dengan air dingin. Bibirku tak mampu bergeming saat  Arman di depanku kini, aku bahkan belum pernah diperlakukan seperti ini oleh Seorang laki-laki bahkan sampai memegang tanganku.

      Aku berpikir keras dengan jawabanku ini. Harus ada hati yang terluka nantinya dan aku tak mau melukai hati manusia, aku tidak ingin melukai hati Ike dan aku tidak ingin berurusan dengan Ike sehingga akan timbul masalah.

         Arman adalah anak terpopuler di sekolah,ia pintar dan tampan dan itu yang membuat wanita terkesima termasuk aku. Walaupun begitu aku tidak ingin menanggung resiko berat, memiliki seorang pria yang disukai banyak orang. 

“maaf aku gak bisa” jawabku menatap nanar wajah Arman.

"kamu tolak aku? Aku serius,San” ucapnya tegas memegang tanganku.
Ya tuhan,perasaan macam apa ini? Kenapa hatiku tidak terima dengan ucapanku tadi? Tanpa sadar Arman tersenyum ke arahku dengan mata berbinar dan kemudian mengajakku pulang.

"Arman,Aku minta maaf ya. Aku gak bermaksud untuk nyakitin perasaan kamu” ucapku memeluk Arman kuat tak tahan jika melihat laki-laki menangis.

Keesokan harinya

     Hari ini aku tidak melihat Arman di kelas padahal jarum jam sudah menunjukkan 06.50 dan mungkin saja Arman terlambat atau memang tidak masuk sekolah hari ini. Ike juga tidak terlihat, hari ini kelas terlihat sepi tanpa kehadiran Ike.

     Mataku tercengang kaget melihat Arman dan Ike bergandengan tangan masuk kelas, otakku berputar memikirkan maksud apa yang mataku lihat di depanku kini. Dadaku terasa sesak, sakit rasanya melihatnya, aku tak kuat menahan sakit hati. Namun secepat aku tahan air mata yang ingin membasahi pipi. Arman tersenyum puas mungkin ini pembalasannya karna aku tidak menerima cintanya dan mungkin ia sedang memanaskan hatiku. 

“ Widih Arman sama Ike balikan nih? Cocok banget” Ucap temannya menyemangati.

"iya dong, hahaha” Sahut Ike dengan gelak tawanya.

“sudah ku duga Arman pasti balik ke pelukan Ike” Lanjut teman lainnya ikut membenarkan.

         Aku menarik nafas panjang tak menyangka dengan apa yang Arman Lakukan di depan mataku, aku rasa Arman hanya mencintaiku. Ternyata aku salah, ia masih mencintai Ike. Aku bahkan merasa seperti permen karet yang dibuang begitu saja setelah di gombalkan dengan kata manis seorang manusia Bernama Arman. Mengapa mudah bagi laki-laki berpindah rasa dan tempat? Apa kemarin hanya dramanya untuk membuat seisi sekolah merasa jijik denganku apa hanya ingin membuat ketenaran?

“Sandra pasti hatinya remuk tuh” Seru salah seorang perempuan dengan suara ejekan.

“gak punya kaca sih di rumahnya, secantik apa dia sampai bisa ngalahin Ike” sambung teman lainnya.
            
          Arman hanya diam saja tanpa sepatah katapun, sepertinya aku hanya sebagai tempat pelarian kebosanan saja setelah dia putus dengan Ike. Perlahan rasa itu mulai pudar tak guna mengiris luka. Bukti sudah ada di depan mata, tak perlu lagi berharap tentang rasa terhadap Arman. Seorang laki-laki bahkan bukan sebagai manusia ia lebih seperti Buaya yang pintar memainkan kata. Dan bodohnya aku yang percaya dan luluh untung saja aku tidak segera menerima cintanya karna aku tau mudah sekali bagi laki-laki untuk berpindah hati dan rasa. Aku sangat berterima kasih kepada diriku sendiri karna tidak terjebak dalam cinta semu dan berani menolaknya masuk.

“Maaf ya,San” tiba-tiba terdengar suara dari mulut Arman.
Semua orang saling berpandangan satu sama lain, mencoba mencerna apa yang Arman ucapkan dan untuk siapa.

"lah kok minta maaf sih?” Tanya Ike penasaran.

“ maaf karna aku udah buat kamu sakit hati” lanjut Arman menatapku.

“Udah lah, gak usah dipikirkan Sandra. Gak penting dia!” jawab Seorang perempuan di sebelah Ike.
Segera aku berpaling dan pura-pura tidak mendengar ucapan Arman. Muak rasanya mendengar ocehan sampahnya.

-

Cukup tau, Parasitmu lebih berharga daripada matahari yang setia menyinarimu. Terik matahari memang menyengat tapi tidak akan membunuhnya seperti parasit.